Gigit-gigit Kecil

zarryhendrik on June 18, 2012 21:04

Poetic

Stats for this track

This Week Total
Plays 9 6738
Comments 17
Favoritings 47
Downloads 100

Uploaded by

  • Report copyright infringement

    More tracks by zarryhendrik

    Kejujuran Yang Melukai

    Bukan Sekadar

    Satu Detik

    Aku Sudah Nyata Untukmu

    Merebut Hatimu Dari Tangannya

    View all

    Gigit-gigit Kecil.

    Aku bisa lupa tentang banyak sekali hal, tetapi tidak tentang rasa bibirmu. Oleh karena bibirmu, lidahku pernah bersujud dan terpeleset jatuh sampai ke dada. Memikirkan hal ini, terkadang bagai derita. Aku jadi ingin berlari secepat mungkin, mendobrak pintu kamarmu dan menyergapmu dengan rindu yang menggairahkan. Argh!

    Sekarang aku mau lehermu. Biarlah di sana bibirku merangkak turun!

    Belum waktunya aku menergap, tetapi baiknya aku meremas sepasang buah dadamu yang telah meronta-ronta kancing kemeja seperti itu. Lihatlah, ada beberapa ruang di antara jari tanganku, ini untuk aku menjamah rambutmu saat kamu tengkurap dengan cantiknya!

    Aku ingin mengusap-usapkan telapak tanganku pada punggungmu. Itu liuk terindah yang pernah berserah di bawah aku. Juga tidak sia-sia daratan bumi ini, tentu saat dengan anggun engkau melangkahkan kaki di atasnya. Kaki yang mulus, indah tanpa keluhan. Bahkan aku ingin berubah menjadi kecil, kemudian merosot terguling-guling di atas hidung mancungmu sampai kembali tergeletak di atas bibir kenyalmu. Dengar, kau selalu mengalahkan aku hanya dengan diam lincah lidahmu!

    “Kata-kataku datang meraba kata-katamu. Maukah kau menanggalkan tanda tanyamu untuk kita bercinta di atas kertas?”

    Aku merasa bahwa satu tanganmu telah terperangkap di antara sepasang kaki yang saling bergulat. Punyamu adalah bahaya yang membahagiakan. Sedang kelingkingku ingin menyentuh dua putingmu. Perlahan-lahan, perlahan-lahan dan perlahan-lahan. Aku bisa berteduh di bawah langit mulutmu.

    “Izinkan aku merayap masuk ke dalam kamu! Aku berjanji, tidak ada satupun bantal yang dapat mencegah kita. Percayalah, tidak dengan cepat ini berakhir! aku siap ditelanjangi dan meleleh, kutahu kau api yang bergairah. Kau merasa seperti ada gelembung di dalam tubuhmu, meletup di balik pejammu, kau menggeliat dan tak mengizinkan aku keluar.”

    Hening ini membuatku terus membayangkan bahwasanya kita sedang bercinta di tengah kerumunan para malaikat. Seperti ada ribuan huruf yang beterbangan karena tertiup gebu nafasku, karena terhempas desah nyaringmu dan tersapu-sapu gerakan kita.

    “Berdirilah seperti menara di kota Paris, yakinlah bahwa kau tak akan roboh selama pinggangku mendayu-dayu!”

    Seolah ada ombak tinggi di dalam mulutmu yang membuatku ingin berselancar di dalamnya. Aku menegang dan menjadi merah, menyelam dengan manis di dalam eratnya lapis dindingmu yang bergetar.

    17 Comments

    16 timed comments and 1 regular comment

    Add a new comment

    You need to be logged in to post a comment. If you're already a member, please or sign up for a free account.

    Share to WordPress.com

    If you are using self-hosted WordPress, please use our standard embed code or install the plugin to use shortcodes.
    Add a comment 0 comments at 0.00
      Click to enter a
      comment at
      0.00